Artikel
RSCJ
Makna Peziarah. 


| Makna Peziarah. |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Sunday, 29 March 2009 | |
|
Makna Peziarah Oleh: Sr. Hortencia, nscj Saya menjadi sadar dan tahu makna suatu peziarahan, karena seorang peziarah berati rela untuk meninggalkan segala sesuatu yang dianggap olehnya baik. Baik orang tua, tempat tinggal, bahkan orang-orang yang dicintaipun harus ditinggalkan. Semuanya ini hanya karena kerinduan seorang peziarah yang sangat besar pada Tuhan dan selalu setia pada perkataan ”Ia” pada panggilan Tuhan yang telah dia terima dan harus dijalani. Kadang kerinduan hati seorang peziarah pada keluarga namun dengan komitmen dan keinginan untuk mengikuti jalan panggilan Tuhan maka selalu bersedia untuk menjalankan tugas perutusan yang telah diberikan. Saya sendiri bisa merasakan hal yang sama, kadang perasaan rindu pada keluarga dan orang-orang yang dicintai pasti ada, akan tetapi perasaan rindu akan Tuhan, haus akan Tuhanpun selalu membuat saya semakin mengantungkan seluruh kehidupan saya hanya padaNya, dan bahkan kerinduan saya pada Tuhan selalu membuat saya ingin dan ingin terus bersama Tuhan, sebab saya tahu bahwa Tuhanlah sumber kehidupan dan penghibur saya. Saya menjadi sadar juga bahwa dalam perjalanan hidup setiap peziarah maupun setiap orang, tidak pernah merasa puas selama Tuhan Allah belum menjadi tujuan perjalanan hidupnya. Dan ini juga kita bisa dapat pada setiap Biarawan dan Biarawati. Kata peziarah sendiri membuat saya semakin sadar dan tahu, bahwa kadang banyak hal yang harus saya alami dalam kehidupan saya ini. Terutama disaat saya harus berpisah dengan orang yang saya merasa aman dengan dia, terutama dengan komunitas saya, dan pengalaman yang saya sendiri rasakan ini, kadang membuat saya sulit sekali untuk bisa melepaskan begitu saja. Akan tetapi dengan ini membuat saya semakin sadar dan tahu bahwa segala sesuatu akan terjadi begitupun harus rela untuk bisa berpisah dengan orang yang kita cintai dalam komunitas kita sendiri, dan spiritualitas peziarah juga memberi banyak inspirasi dalam menghadapi kehidupan bersama. Karena jikalau setiap peziarah merasa diri seorang yang sedang berjalan dan berziarah, ia tidak pernah memutlakkan apa yang ia miliki dalam perjalanan, apa yang ia temui dalam perjalanan, dan apa yang akan dia alami dalam perjalanannya. Semua peristiwa bisa ia terima dengan lapang hati dan rela, asalkan tujuan yang ingin dicapai tidak pernah hilang dari arah pandang dan arah perjalanan. Semua perjalanan kehidupan ini, mengingatkan saya kembali pada pertemuan saya dengan Sr Ambuja dan para suster RSCJ yang lain, karena saya kadang merasa sangat berat untuk bisa melepaskan mereka pergi, akan tetapi dengan arti dari komunitas peziarah ini, membuat saya semakin mengerti dan lebih memahami bahwa, saya harus merelakan setiap orang yang datang dalam kehidupan saya, untuk bisa pergi ke tempat yang lain dengan bahagia pula. Dan akhirnya saya sadar bahwa meskipun kita berpisah tetapi selalu bersatu dalam Doa dan dalam Hati Yesus yang selalu terbuka.
|
|
| Last Updated ( Sunday, 06 December 2009 ) |
| < Prev | Next > |
|---|
| Halaman Depan |
| Misi |
| Sejarah |
| Pelayanan |
| Hubungi Kami |
| Syarat RSCJ |
| Artikel |
| Berita |
| Pondok Bocah |
| Agenda |
| Book Review |
| Koleksi kategori Buku |